Senjata Untuk Bibir Kering di Segala Musim

Halo man teman semuanya..

Di antara kalian ada yang bermasalah sama bibir kering nggak? Me, yes. Kadang sebel karena susah kalau mau pake lipstick. Antara nggak bisa nempel bener lispticknya, baru dipake trus muncul lah itu kulit bibir kering ngelopek-ngelopek, atau sesudahnya bibir rasanya tebel atau sakit waktu dibersihkan. Hayoo siapa yang sering ngalamin gitu? Nah apa yang biasanya dilakuin kalo bibir waktu bibir lagi kering atau “nggedibel” (Ini bahasa indonesia apa ya? Ada yang tau nggak? bibir berasa tebel bukan sih? :p)

Bibir kering ini perawatannya kudu super extra. Terlebih untuk yang tinggal di daerah 4 musim. Perawatan bisa jadi tergantung musim. Nah sekarang aku mau share produk yang aku pake untuk “dealing with dry lips”. Ada beberapa senjata ampuh yang biasanya aku pakai untuk bibir kering yang bermasalah ini.

Produk yang biasanya aku pakai

Produk yang biasanya aku pakai

*Ini bukan postingan berbayar. Hanya berdasarkan pendapat pribadi*

Naah mari dibahas satu-satu produk yang biasanya aku pakai.

wpid-psx_20150806_161911.jpg1. Lush Labbracadabra.

Produk eksfoliator yang satu ini wajib banget dipakai untuk yang bibirnya super kering. Oles-oles pake ini tadaaaaa bibir mulus halus. Satu yang aku suka wanginya enaaaak. Sebenarnya ini agak overpriced untuk produk dengan bahan yang cuma gula sama jojoba oil gitu sih, tapi wanginya enak. Jadinya tetep suka pakai produk ini. Cara pakainya: colek sedikit kemudian gosok-gosok ke bibir. Kalau kata mbaknya yang jaga toko Lush, kalau sudah digosok-gosok ya udah gitu aja langsung kasi lipbalm atau lipstick. Tapi aku nggak suka karena gulanya jadi nempel ke lipbalm atau lipstik. Jadi aku biasanya bersihin sisa-sisa gula yang nempel di bibir pakai tissue atau kapas yang sudah dibasahin air sedikit aja. Untuk produk ini ada beberapa macam flavour sih cuma aku nggak inget. Karena pertama kali liat ini pink dan wanginya enak jadi langsung Bungkuuuusss :p

Aku entah kenapa suka banget beli lipbalm atau lipstick. Belum habis udah beli lagi yang lain jadinya numpuk-numpuk. Tapi asik juga sih jadi makainya bisa disesuaikan dengan mood hwehehehe

wpid-psx_20150806_162401.jpg

 

2. Sephora Super Nourishing Lip Balm

Suatu hari lagi iseng masuk sephora terus lihat ada produk ini dekat kasir. Menurut si mbak yang jaga ini Ok banget lho untuk yang punya bibir kering kayak kamu. Iya si mbak tau aja bibir aku super kering. Terus si mbak mulai deh andebra andebre bla bla bla maka termakan lah aku rayuan dia dan berhasil membawa satu lipbalm ini. Hmmm sebenarnya nothing special juga sih sama produk ini. Pas aku pakai produk ini, menurutku dia kurang long lasting kalau soal melembapkan bibir. Cuma bertahan sebentar bibirku uah pecah-pecah lagi. Agak mengecewakan. Ntah karena bibirku yang bawel atau emang produk ini just not for me. Karen aku jarang-jarang pakai akhirnya lipbalm ini sering juga dipakai sama Carlo. Dia bilang sayang aah udah beli nggak dipakai. Jailah kadang dia pakai ini.

 wpid-psx_20150806_150501.jpg                              wpid-psx_20150806_150327.jpg

3. Yves Rocher Framboise dan Coco

Suatu hari pas jalan di pusat kota, aku lihat lhoo ada toko baru boleh juga nih. Masuk, lihat harganya mayan laaah nggak bakal bikin kantong bolong seketika. milih poduk A, B, C, terus lihat ini lipbalm ada promo beli 1 cuma 1,5  € jadilah mborong dua. Ada beberapa macam varian sih tapi aku nggak inget apa aja. Akhirnya nyobain deh dua lipbalm ini Framboise dan Coco. Framboise is my favorit. Pas dipakai dia ada warnanya pink gitu. Lipbalm ini lembap dan lumayan tahan lama plus wanginya enak. Kadang kalau malas pakai lipstick, oles-oles ini aja bibir langsung pink merekah heehehe ini sudah kedua kali aku beli Framboise ini. Untuk musim dingin autum dan winter pun dia tahan kok melembapkan bibir.

Untuk yang Coco aku nggak suka jadi akhirnya dipake sama Carlo. Aku berasanya kayak ada santan di mulut padahal sih nggak. Cuma kan di otakku coco itu asosiasinya adalah santan buat masak jadi opor, lodeh, rendang gitu hwehehe Aslinya varian ini wangi coco biasa aja. Ada kayak wangi vanilla juga. Cuma dua kali nyoba aku nggak suka jadilah hak milik bapak suami. Oh iya ini versi lama ya, aku kemarin lihat di toko mereka sudah ganti kemasan bukan putih gini lagi warnanya tapi jadi kuning gading dan hijau.

wpid-psx_20150806_150200.jpg

4. The Body Shop Lip Butter Chocolate

Siapa sih yang nggak tahu kualitas TBS? Nggak usah diragukan lagi lah ya gimana si TBS ini memuaskan para pembelinya. Salah satu produk unggulan mereka adalah lipbalm. Ini kedua kali aku pakai lipbalm TBS. Yang pertama dikasi oleh-oleh temen yang edisi Rolling Stone yang ada lidah melet itu di tutupnya, yang aku punya pertama itu rasa strawberry. Terus kedua kali pake, beli ini yang rasa coklat. Rasanya yummm enaaak. Wanginya nyoklat banget kayak mau gigit-gigit dan jilat-jilat bibir sendiri. Pokoknya enak banget laah ini. Creamy dan lembap banget texturnya lipbalm ini. Aku belum nyobain lipbalm ini pas winter karena baru dibuka beberapa minggu yang lalu. Kalau pakai ini terus ditimpa lispstick bakal terlalu creamy jadinya di bibir. Makainya kudu tipis-tipis atau di-blot sedikit baru ditimpa lipstick dijamin abis itu bibir mulus pakai lipstick apalagi untuk jenis lipstick matte yang lagi hip sekarang.

wpid-psx_20150806_150030.jpg

5. Palmer’s Dark Chocolate and Cherry Lip Butter

Ini salah satu penolong terbaik untuk bibir kering. Formulanya mantep banget buat nolongin bibir pecah-pecah. Ini bisa dipakai sebagai lipbalm atau bisa ditumpuk diatas lipstick untuk memberi kesan gloss. Ketahanan kelembapan dari Palmer’s ini sangat diacungi jempol. Pas lagi summer atau winter, ini favoritku untuk dipakai sebelum tidur supaya pas bangun bibir tetap mulus. Karena aku kurang begitu suka lipstick yang glossy jadi belum pernah untuk dilapisin diatas lipsick. Selama ini pemakaian produk ini cuma untuk melembapkan bibir aja. Day and night, produk ini sering aku pakai. Kombinasi rasa coklat dan cherry pas kena bibir itu sangatlah menyenangkan. Wanginya hmmmmm yummy. Sayangnya produk ini nggak ada disini kalau abis huwaaaa nggak bisa beli lagi. Kudu pulang ke Indonesia buat beli. Disini ada sih yang jual Palmer’s Body Lotion tapi nggak ada Lip Butter, hiiikz.

wpid-psx_20150806_145939.jpg

6. Kiehl’s Lip Balm Pear

Kiehl’s ini sudah sangat terkenal membantu masalah bibir pecah-pecah bahkan untuk bibir sensitif sekalipun karena formula dia yang super melembapkan. Pake sedikit aja bisa lembap ini bibir berjam-jam. Aku biasanya makenya gantian sama Palmer’s, jadi kalau bosan make Palmer’s ya pake Kiehl’s ini. Waktu beli ini pas lagi ada promo, aku beli sekitar 7 Euro kalau nggak salah. Waktu itu Kiehl’s baru buka di Genova, lagi ada promo untuk produk lipbalm mereka. Ada beberapa varian rasa sih, katanya paling banyak beli yang Framboise tapi aku penasaran sama yang Pear karena jarang banget ada produk bibir dengan rasa Pear. Kiehl’s ini sudah terbukti untuk berbagai macam cuaca. Aku sudah nyobain sendiri. Winter di Genova yang sadis berangin biasanya bikin kombinasi sakit kepala dan bibir yang pecah-pecah seketika pas kena angin. Aku keluar rumah pakai sekitar 5-6 jam bibir masih lembap. Super memuaskan pakai produk Kiehl’s ini. Kalau mau dipakain lipstick setelahnya biasanya aku blot tipis-tipis dulu supaya nggak glossy banget. Naah walaupun sudah di blot dan ditimpa lipstick, lipbalm ini tetap bikin bibir lembap selama berjam-jam.  Me likey so much this product.

 wpid-psx_20150806_145745.jpgwpid-psx_20150806_145850.jpg

7. Elizabeth Arden Eight Hour Cream Lip Protectant Stick Sunscreen SPF 15

Naaaah ini dia si juara yang telah memenangkan hati dan bibirku, tsaaaaaaah. :p Awalnya nemu produk ini nggak sengaja pas jalan-jalan sama ipar ke profumeria. Kan aku cuma mbuntutin dia belanja awalnya, pas dia bayar liat di kasir ada ini lipbalm lagi promo. Terus tanya-tanya ini apa, gimana OK nggak? Dan lagi-lagi aku termakan promo dan rayuan maut mbak yang jaga toko. Lemaaaaah aku lemah kalau sama lipbalm. Tapi aku bahagia akhirnya ku menemukan senjata maut untuk bibirku yang rewel ini. Kalau pake lipbalm kayak TBS, Palmer’s atau Kiehl’s kan kudu pake acara blot-blotan dulu nih supaya bibirnya nggak terlalu glossy, naah pake ini adalah solusinya. Oles dikit maka dia akan menyelamatkan bibir pecah-pecahmu seketika dan jangka waktu lama sesuai janjinya dan judul produknya. Yesss dia tahan 8 jam, plus kelebihan dia ada SPFnya juga. Jadi kalau mau panas-panasan atau pas mau main salju dingin dan matahari yang super strong, ini bisa jadi andalan banget. Aku nggak pernah lupa bawa produk ini di dalam make up pouch ku. Produk ini selalu setia mengobati bibirku yang super rewel karena kering melulu.

Jadi itulah 7 produk andalanku buat perang melawan si bibir kering. Entah mengapa bibirku ini rewelnya nggak karuan. Dulu nyoba pake madu gagal mulu karena berakhir dijilat-jilatin dan akhirnya makin kering bibirnya. Pake olive oil nggak suka, minyakan banget. Akhirnya aku harus nyari produk lipbalm yang benar-benar bisa diandalkan. Setelah sekian lama pencarian maka itulah hasilnya di atas. jadilah aku pengoleksi lipbalm hwehehehe. Walaupun sudah dirawat macam-macam tetep aja, bibirku kalah pink dan kalah sehat sama bibir Carlo. Bibir dia itu beneran pink sehat gitu. Aku iriii.. Dia juga rajin banget pake lipbalm.

Apakah lipbalm atau produk favorit teman-teman untuk merawat bibir kalian? Boleh di-share disini yaa 🙂

Kopdar di Roma

Kemarin hari senin tanggal 6 ceritanya kami mau short escape ke Roma. Sebenarnya tujuan utamanya adalah perpanjang paspor yang kadaluarsa bulan Juli besok. Nah sekalian laah liburan lagi ke Roma. Udah sumpek juga ternyata di Genova. Jadilah hari senin pagi-pagi jam 7 kurang kami sudah siap sedia di stasiun Brignole. Hari senin setelah minggu paskah itu hari libur di sini, namanya pasquetta. Biasanya orang-orang akan piknik bareng keluarga dan teman-teman. Kalau cuaca mulai bagus biasanya mereka juga akan barbeque-an .

Naah berhubung pasquetta dan hari libur, aku sudah ngontak Adhya dari jauh-jauh hari sebeumnya. Ini sebenernya percobaan kedua mau ketemuan. Yang pertama dulu  pas aku terjebak di airport Fiumicino Roma selama 24 jam. Sudah kirim pesan di Whatsapp bilang ayo ketemuan. Yang ini kudu jadi. Hehehe. Alhamdulillah jadi juga yaa kita ketemuan ibu Adhya hwehehee..

Nyampe Roma jam 12 siang, terus kami muter nyari makan siang dan lanjut ke B&B. Nyampe B&B udah kirim Whatsaap lagi ke Adhya, janjian mau ketemuan dimana dan jam berapa. Tersepakatilah jam 6 di stasiun Termini. Karena pas nyampe hotel masih jam 2an, ya sudahlah istirahat dulu, tidur-tidur dulu. Capek yaah ternyata naik kereta 5 jam dari Genova ke Roma.

Eeeeeeh beneran doong ketiduran, lupa pula nyalain alarm. Tau-tau kebangun udah jam 5.20an. Hadooooooh panik deh.. Jenggirat (ini bahasa indonesianya apa ya? seketika bangun gitu? :p) bangun, langsung bangunin Carlo ayooo mandi kita janjian jam 6 ini. Buru-buru deh yaaa siap-siap. Itu karena kami belum mandi jadilah langsung siap-siap. Kedabugan laah pokokee.. Mandi buru-buru. Duuuuh tapi tetep wangi kan kami Adhya? Terbukti siih kalian nggak pingsan duduk deket kami. Atau kalian nahan-nahan? :p

Selesai mandi, sholat, ngeringin rambut, gambar alis, pake lipstick (ini harus biar kece, ntar dikiranya Adhya nih tamu dari Genova gembel banget sih hehehe) langsung lari keluar nyari bis ke Termini. Dooooh lama pulak bisnya. Nungguin bis aja kemaren 15 menitan. Akhirnya itu bis datang juga. Nyampelah kami di Termini, hari masih lumayan terik waktu itu tapi yaa book dinginnyaaaaa.. Windy banget ternyata hari itu. Nyampe di Termini, langsung telpon Adhya. JAnjianlaah kami di depan loket tiket yang banyak bendera-benderanya hehehehe..

Akhirnya dari jauh keliatan lah Adhya yang berjilbab dan suaminya yang tinggi menjulang. Aku berasa kurcaci di sebelah suaminya Adhya. Ampuuuuun mister A. hehehehe.. Setelah transaksi pemberian bakso sebagai oleh-oleh kami lanjut mencari tempat buat ngobrol. Maap aaa Adhya, cuma ngasi bakso sedikit. Abisnya aku juga bingung nih mau ngasiin apa. Mau ngasi pesto, kamunya nggak suka pasta. JAdi bingung sendiri. Adanya bakso, pasti nggak ditolak sih kalau bakso hweheheheh ya kan ya kan? Semoga suka dan enak yaaah baksonya..

Setelah nemu bar yang agak lumayan ok walaupun rame, ngobrol lah kami ngalor ngidul ngetan ngulon . Kami ngobrol sendiri, para suami juga ngobrol sendiri. Aaaah serunya ada yang diajak ngobrol bahasa indonesia di tanah asing ini. Sesekali kami ikutan nimbrung di diskusi para suami. Oh yaaa Adhya bilang aku lancar bahasa Italia? baaaaah itu maaah salah sodarah sodaraaaah.. Kemampuanku msaih cetek bin bangeeeet. Sering salah pula. Udah nggak pernah berangkat sekolah. JArang ngerjain latihan di buku yang sudah dibeli. JAdi belajarnya sekarang nonton tv, nonton film kartun, dan ngobrol sama keluarganya Carlo. JAdi kalo dibilang jago beuuuuh salaaaah pemirsa salaaaah..

Jam  menunjukkan pukul delapan, perut mulai kriuk-kriuk kelaparan. Makan apa yaaa? Begitu keluar Termini terlihat jelas ada restoran india halal. Aaaaah senangnya ngeliat ada restoran dengan label halal gede banget. Langsung cuzzz kami kesana. Sepiring nasi biryani daging, nyaris ludes dipringku. Ketauan banget kalo kelaparan. Boook lagian enak banget jugaa. Aaaah nasi berempah ini nemang favorit banget yaaa.

Tau-tau udah jam 9 aja, udah malam. Karena rumah Adhya yang jauh, terpaksa kami harus berpisah disini. Alhamdulillah senang banget ketemu temen di Roma, ngobrol seru. Nggak kerasa banget yaa tau-tau udah harus balik. Lain kali pokoknya ngobrolnya harus disambung. Entah aku yang ke Roma lagi atau kalian yang kami tunggu di Genova yaaah.. Makasih yaaa sudah nyemepetin ketemu. Maapkaaan tamunya membuat kalian menunggu.. huhuhuhu ampuuun.. Ntar pas kalian disini aku bayar pake semangkok mie bakso ayam jamur plus kerupuk pangsit dan sepiring pempek deh.. Mau dibungkus juga boleh tentunya hwhehehehe

..

image

image

PS (ini tanpa foto karena entah mengapa ni laptop nggak mau connect ke hp, dan mau edit mau pake hp dan nambahin foto dari hp juga nggak bisa.. huhuhuhu ntar kalau sudah bisa aku edit yaaah..)

Hidung

Di suatu sore terjadilah percakapan yang bikin istri pengen ‘turning table’

Anggi: Sayang,  you know,  i think my sunglasses is too big. It’s always going down. Soooo annoying. And it’s almost summer. Can i have a new one?  *sambil kedip-kedip* well, it’s not the fault of my nose. It’s the sunglasses which is too big. Ya kaaaan?
Carlo: Hmmm the fact is… Do you have nose? I can’t see it. Kamu tidak punya hidung sayang. (sambil senyum-senyum ngejek)
A: apaaaaah??????

Kalo suami model gini enaknya diapain yaaaah sodara-sodaraah???? Dan beneran dia bilang itu pake bahasa Indonesia.. Kaaan aku jadi tambah esmosi. Lu kate nih cuma aksesoris muka?? 

Belajar bikin keramik

Udah punya utang banyak cerita niiih.. Diniatin pokoknya hari ini atau besok semua harus selesai. Kemaren sempet janji mau cerita tentang trip gratis dari sekolah. Aku ikut dua trip ke laboratorio di ceramica dan laboratorio di miele (madu).

Yang berhasil tripnya cuma yang laboratorio di ceramica aja. Yang ke pabrik madu gagal total karena tempatnya tutup. Udah gitu si Ibu A sebagai pemilik laboratorio di miele nggak kasi tau ke pihak sekolah. Si yang punya di telpon gak bisa-bisa. padahal kita udah di lokasi pagi-pagi. Bzzzzzz banget laah pokoknya. Setelah berhasil dihibungi, kami dioper ke pabrik madu lainnya, tapi yang punya pabrik madu lain ini ogah kedatangan tamu. Dikiranya karena kami dari sekolahan jadi maunya gratisan. Padahal sekolah kita mbayarin booook. Ibu guru pendamping agak tersinggung nih, soalnya cara nolaknya kasar meeen. Ditinggal lah si empunya pabrik ini. Terus ada beberapa murid termasuk aku, tetep nggak mau rugi, jadi tetep beli madu dong. (Soalnya pas di rumah persediaan madu abis. Naah si Mas Carlo nih kalo minum kopi sekarang lebih milih pake madu timbang gula) Eeeeh nyadar kita beli banyak, doi berubah pikiran. Kita dibolehin. Kacooo laaah. Tapi emang yang punya pabrik ini, kasar banget ngomongnya. Ampooon daaaah.. Abis pada beli, kami semua ngacir dari toko dia. Abisnya tau2 kami dikunciin di dalam toko dia terus dipaksa suruh ke labnya. Kacoo deh pokoknya. Jadinya kami berbelok arah ke Sanctuario di Guardia, gereja yang terletak di puncak gunung.

Ya sudah lupakan kejadian tidak mengenakkan di pabrik madu. Lanjut ke laboratorio di ceramica ajaah..

Pagi-pagi jam sembilan kami disuuruh ngumpul di centro, tepatnya di Piazza de Ferrari. Depan air mancur lebih tepatnya. Harusnya dari kelasku ada dua orang yang ngikut. Tapi kok nggak ada yang muncul yaaak. Adanya anak-anak dari kelas lain yang sudah advance. Jiper deh akunya karena modal bahasa itali yang belum lancar. Ngerti sih ngerti tapi kalo suruh njawab jelas masih belepotan. Ya sudahlah. Sendirian. Lumayan dapet temen baru. Setelah nungguin sampe jam 9.15 jalan deh kami ke lokasi laboratorio di ceramico. Kupikir bakal jauh dan bakal mblusuk2 kemanaaa gitu. ealaaaaah jubulo lokasinya sering aku lewatin. Dah emang tempatnya sering aku liat dan pantengin karena di jendela depannya banyak terpampang piring2 cantik.

itu dia tampak depannya..

DSC_1341[1]

Nah setelah kenalan sama yang punya, kami dipersilahkan naik ke atas ke laboratorio mereka. Disana sudah disiapin tempat dan bahan-bahannya. Bahan utamanya yaa tanah liat. Disana tanah liatnya sudah berbentuk kotak-kotak panjang kayak roti tawar gitu. Disini nyebutnya “pane” yang berarti roti yaa karena bentuknya yang kayak roti hehehe.

DSC_1314[1]

Tumpukan Pane

Setelah dipoton-potong, ini dia jatah potongan pane buat aku

DSC_1315[1]

Pertama-tama kami diajarin bikin Piastrela alias ubin yang bergambar warna-warni itu..

Karena mau bikin ubin jadi panenya harus dipipihkan terlebih dahulu. gini niih caranya. Menyetinnya dipukul-pukul sekuat tenaga.

DSC_1316[1]

Setelah agak-agak penyet kemudian diratain pake penggiling kue yang bunder lonjong itu.. Namanya apa yaa alatnya?

DSC_1318[1]                            DSC_1319[1]

Tuuh udah pipih gitu kan terus ntar dipotong bentuk bujur sanngkar. Tapi sebelum dipotong, dicetak dulu ke pola bentuk piastrelanya. karena masih pemula jadi kami nggak nggambar sendiri tapi dikasi pola yang udah ada.

Nih lagi pada belajar nggiling Panenya.

DSC_1320[1]

Setelah digiling terus dikasiin pola, baliknya kami disuruh nulis nama masing-masing. Biar ketauan ini punya siapa hehehe

DSC_1328[1]

dan setelah dibalik dan dipotong tadaaaaaaaaaaaaa

DSC_1329[1]

Setelah itu proses selanjutnya adalah mewarnai.. Warnanya sih emang sebaiknya yang terang benderang, jadi kami kemaren dikasih warna biru, merah, kuning, hijau. Setelah diwarnai warnanya nggak akan langsung keliatan. Kan harus nunggu kering dulu kira-kira 10 hari. Setelah dimasukin oven dengan suhu hampir 1000 derajat celcius.

Setelah diwarnai, ini dia punya aku

DSC_1338[1]

 

Setelah selesai bikin Piastrela, kami diajrin lagi bikin mangkok dan cangkir. Kalo ini sih lebih ke keterampilan tangan yaa. Naaah karena masih amatiran, punya aku kaco banget bentuknya. Abisnya susah ternyata mbentuknya. Dan hasil punya aku beginilah (maluuuuuuu, tutup muka)

DSC_1339[1]

nggilani banget.. Lhaa pie abisnya ini juga bikinnya waktunya mepet, mana pula pecah-pecah mulu. Harus lembab dan disemprot air berkali-kali. Mana gitu ini tangan nggak bisa diajak kerjasama bikin yang agak bagusan dikit. Yo wes laah ya seadanya jadinya yaa gitu itu..

Naaah karena harus nunggu kering dan di oven dan finishing lagi pake diolesin bahan apaa gitu biar kinclong kayak keramik, jadi hasilnya nggak bisa langsung dibawa pulang. Setelah 10-15 hari kami disuruh balik lagi kesana untuk ngambil hasil karya tangan kami yang bentuknya yaaa begitulah hahahaha.. Kami pergi kesana tanggal 25 Juni kemaren. Ntar laah yaa minggu-minggu depan, aku ambil deh barangnya. Ntar kalo udah diambil, kalo bagus kufoto terus aku edit masukin sini deh..

 

Jadi begitulaah pemirsa semuaa hasil perjalanan ke laboratorio di ceramica. By the way, disana juga buka kursus. Banyak yang kursus dari yang masih kecil-kecil sampe yang udah oma-oma. Yang anak kecil kemaren aku liat ada yang bikin OWL kereeeen banget. Ada juga mas-mas ganteng bikin piring besar terus ditulisin puisi. aaaauuuuuuuuuwww so sweeeet.. Ada lagi satu oma bikin sculpture salah satu tempat di Genova. Makjaaaang itu keren banget. Detail banget. Kereeeen laaah.

 

 

 

 

Sekolah bahasa Italia

parlo italiano

(Minjem foto dari http://www.polyglosso.com/italianlinks.html)

 

Ceritanya nih mau berbagi cerita tentang sekolah bahasa Italia. Sang calon suami (pada saat itu masih calon :p) dari pertama kali memutuskan untuk nikah sudah nyuruh-nyuruh buat les bahasa Itali disini. Ini tempat kursus bahasa Italia yang dikelola sama pemerintah Italia. Sistem kurikulumnya juga ngikut standard dari pemerintah Italia. Tapi kan aku masih aras-arasen (ini bahasa Indonesianya apa? Kalo males-malesan bisa nggak?) karena waktu itu masih iwut bin ribet bikin thesis. Jadi kan nih kepala masih panas sama urusan thesis bahasa Inggris, eeeh disuruh pula les bahasa Italia. Tapi akhirnya aku nyerah pemirsah. Lagian setelah dipikir-pikir ini bisa buat refreshing setelah bergulat dengan thesis yang berbahasa Inggris dan bikin kepala pecah pada saat itu.

Akhirnya setelah telfon dan datang ke lokasi untuk cari-cari informasi, daftarlah nama kesana. Eeeeh masuk waiting list pula. Disuruh nunggu lagi. Karena kalo tidak salah harus masuk quota 10 orang untuk mulai kelas baru. Setelah nunggu lama disambi memborbardir si admin disana untuk tau kapan tanggal mulainya, maka pada akhir November ada kabar kelas akan dimulai. Yuhuuuuuu

Carlo waktu itu udah nyuruh-nyuruh karena ayooo sekolah disini, biaya kursusnya murah banget inii timbang ngambil kursus berbayar di Italinya sendiri. Iyaa sih emang murah dibanding disini, kalo kursus berbayar lho yaaa. Pada waktu itu untuk kursus 60 jam, 3x seminggu, dengan waktu 3 jam perhari, aku bayar Rp.2.000.000,-.

Semangat 45 banget lah pokoknya pas sekolah dimulai. Pas pula dapet guru yang asik. Orangnya baik banget, sabar pula. Kami sekelas nggak sampe 10 orang waktu. Cuma ada 7 orang kalo tidak salah. HAri pertama biasalah yaa, nanya motif belajar dll. Ada yang karena mau liburan di Italia, ada yang karena mau sekolah, ada yang mau sekolah seminari, ada yang iseng-iseng aja. Waktu itu ada 2 ibu-ibu yang lumayan cukup berumur, alasan ibu A karena mau jalan-jalan, lagian buat ngisi waktu dan nggak mau kalah sama anaknya. Anaknya daftar kursus bahasa Jerman, ibunya kursus bahasa Italia. Hebaaat. Ada lagi si Ibu B, dia dosen, umurnya 60 sekian, mau kursus karena biar otaknya gak berenti kerja. Hebaaaaaaat. Aku salut. Besok kalo udah tua gitu juga aah. Kan katanya beljar behasa lain itu mencegah penyakit pikun.

Lumayan banget tuh udah belajar di Jakarta basicnya. Karena sampe sini, itu penting banget tau basicnya, kalo nggak keteteran ntar belajarnya. Setelah nyampe sini, sambil nunggu semua dokumen jadi, dan biar si istri ada kegiatan, di daftarin laah di sekolah berbayar disini. Aku waktu itu ambil kursus selama 5 minggu di sekolah A door to Italy. Alhamdulillah dapet guru yang OK banget. Tapi yaah karena berbayar, itu cukup membuat keuangan gonjang-ganjing. Mahalnyooo. Setelah 5 minggu, stop dulu yaaaah. Lagian saat itu dokumen juga hampir selesai, jadi mau lanjut yang ke gratisan ajah. :p

Setelah dokumen semua selesai, maka dimulailah pencarian sekolah gratis yang diadakan oleh setiap comune di Italia. Setelah telfon sana sini, tanya sama siapa, nemulah 1 sekolah yang Alhamdulillah lagi deket rumah. Pas kesana disuruh bawa paspor dan permesso di soggiorno (kartu ijin tinggal). SAmpe sana disuruh antri dulu, kemudian diwawancara. Standarlah yaa pertanyaannya, sudah pernah kursus? sudah belajar apa aja waktu kursus? sehari-hari pake bahasa apa di rumah? Pas jawab pake bahasa Inggris, langsung deh “KAmu kalo mau istrinya lancar bahasa Italia, jangan diajakin ngomong pake bahasa Inggris dong. Pake Bahasa Italia laaah. Gimana sih. Mulai sekarang kalian berdua harus ngomong pake bahasa Italia!” Aku bengong abis dikatain sama yang wawancara. Baik nyonyaaah. Akan dilaksanakan seingatnya, itu kataku dalam hati waktu itu. Abisnya sebel juga digituin. Iya sih bener, gak gitu kali ngomongnya. Kemudian dikasi jadwal kelas yang ada, disuruh milih mau hari apa aja, berapa jam. Setelah OK, baru deh dikasi jadwal untuk mulai minggu depannya.

Sempet kaget sih langsung bisa mulai. Kalo tidak salah, setau aku kelas biasanya akan dibuka setiap April dan Oktober. Aku daftar kemarin itu pas bulan Maret. LAngusng OK aja. Alhamdulillah, dilancarkan emang kalo niatnya baik mau belajar, hehehe. Setelah keluar dari ruangan wawancara, kami disuruh ke ruangan resepsionis untuk ngisi formulir. Setelah itu, bayar 2 atau 3 euro yaa? lupa. Itu buat asuransi katanya. Sekolahnya gratis tis tis tis. Aku milih yang 3x seminggu. Masing-masing 2 jam setiap harinya. Kalo mau rubah jadwal jadi tiap hari juga boleh, langsung aja dateng ke kelas yang dimau. Bilang sama gurunya, mau masuk ke kelas ini. Udah gitu aja, tanpa basa-basi, tanpa biaya tambahan.

Alhamdulillah lagi dapat guru yang baik banget nget nget. Sabar banget sama muridnya. Apalagi kalo muridnya ndableg. Kebanyakan murid di kelas aku berasal dari Amerika Latin. Mereka pake bahasa Spanyol yang notabene mempunyai kemiripan hampir 80% dengan bahasa Italia. Buat mereka sih nggak masalah yaa. Paling beda di pengucapan doang.

Untuk sekarang ini, sekolahnya lagi libur summer niih. Mayan lama pula liburnya. Kelas terakhir ya minggu lalu. Dan baru akan mulai lagi Oktober besok. Fiuuuuch.. Ngapain coba ini libur lama gini?

Oh iya, kemaren sebelum libur, dari sekolalah nawarin beberapa trip ke berbagai tempat. Misalnya, pabrik madu, pabrik pasta, pabrik keramik, pabrik coklat dan pabrik furniture. Aku daftar untuk pabrik madu dan pabrik keramik. Kehabisan quata untuk yang pabrik coklat, hiiiiiikzz. Tripnya sendiri nanti akan ada di tanggal 25 dan 27 Juni. Ntar kalo udah dari sana aku ceritain yaa disini,.

Jadi ya gitu ceritanya tentang sekolah bahasa ini. Setiap Comune biasanya menunjuk beberapa tempat untuk diadakan sekolah gratis. Lokasi sekolahnya sendiri biasanya di lokasi sekolah umum. Kalau sore ketika murid sudah pulang sekolah, kelas bisa dipakai untuk yang mau sekolah bahasa Italia gratis. Asalkan punya permesso di soggiorno alias kartu ijin tinggal pasti diijinkan sekolah disini. Dan mereka yang sekolah disini juga akan mengeluarkan sertifikat yang bisa dipakai di seluruh Italia. Kecuali yang punya visa family, jika mereka akan memperpanjang permesso di Soggiorno, mereka harus menunjukkan sertifikat bahwa mereka minimal punya sertifikat level A2. Jika tidak, permesso di Soggiornonya aka ditolak.

Begituuuu ceritanya teman-teman..

Rumah – Home – Casa

Abis dengerin randomly mas Buble nyanyi, tau-tau kepikiran nulis tentang rumah. Aaaah mas Buble bikin pengen cepetan pulang. huuukz huuukzzz

Jadi apakah arti rumah? Kalo menurut aku, rumah adalah tempat untuk pulang ke pelukan orang tersayang.. Buka masalah fisik rumahnya tapi fisik dimana orang tersayang berada. Kenapa bisa mengasumsikan arti seperti itu, karena itu adalah pengalamanku sampe sekarang. Begini ceritanya. 🙂

Dari kecil, pekerjaan orang tua yang mengharuskan mereka berpindah-pindah setiap 3-5 tahun sekali. Karena itu kami dulu nggak punya rumah tetap. Karena setiap pindah, selalu sudah disediakan rumah oleh kantor Papa. Sampai akhirnya ketika adek-adek sudah semakin besar dan menentukan untuk kuliah di Jogja, maka sejak itu ditetapkan, ayo bikin rumah di Jogja.

Sebelumnya, aku sudah ngekos dari kelas 3 SMP. Karena waktu itu Papa harus pindah ke Palu dan aku nggak mau ikut, Jadilah resmi pertama kali ngekos waktu itu. Sejak itu, aku sudah mulai kenal yang namanya istilah MUDIK. Tiap libur lebaran atau libur sekolah, aku pasti pulang ke rumah dimana orang tua ku tinggal pada saat itu. Dari SMP kelas 3 sampe SMA kelas 2, aku mudiknya ke Palu. Yaa karena disanalah oranng tua dan adek-adekku tinggal pada saat itu.

Pada saat kuliah S1 kemaren di Salatiga, pas kebetulan Papa pindah ke Madiun, jadi yaa tiap weekend mudiknya ya ke Madiun. Sampe akhirnya, Papa pindah ke Semarang. Mudiknya kemana?? Antara Jogja dan Semarang. Dimana Papah sama Mamah ada pas weekend, disanalah aku pulang. Karena waktu itu rumah Jogja sudah jadi. Jadi Papa sama Mama dan adek2 bisa aja weekend di Semarang atau di Jogja. Oleh karena itu tempat mudikku yang tergantung dimana mereka berada.

Setelah Papa pensiun maka tempat mudik sudah pasti ya di Jogja. Akhirnya punya rumah menetap. Sekarang kalo ditanya mudik kemana? Bisa jawab dengan pasti ke Jogja 🙂

Tapi setelah nikah, pulangnya bisa berati dua tempat juga. Pulang ke pelukan suami atau pulang ke pelukan uyel-uyel Papah sama Mamah. Itulah mengapa yang namanya pulang ke rumah untuk mudik adalah pulang ke fisik pelukan orang tersayang bukan semata ke fisik rumah. Begitulah ceritanyaaaa.

Kalian kalo mudik kemana?